Sabtu, 22 Desember 2012

Intervensi Krisis


Intervensi krisis mengacu pada metode-metode yang digunakan dalam melakukan tindakan segera, berupa bantuan jangka pendek kepada seseorang yang memiliki pengalaman terhadap peristiwa yang menghasilkan reaksi emosional, mental, fisik, dan keadaan yang menyebabkan timbulnya stress atau masalah. Krisis mengacu pada berbagai situasi yang membuat seseorang merasa tiba-tiba kehilangan kemampuannya untuk mengatasi masalah secara efektif dan kemampuan kopingnya. Angka dari peristiwa atau keadaan sebagai pertimbangan terhadap terjadinya situasi krisis : Situasi yang mengancam jiwa, seperti : bencana alam (gempa bumi, tsunami), pelecehan seksual atau korban tindakan kriminal lainnya, penyakit medis, penyakit mental, niat bunuh diri atau pembunuhan, ataupun kehilangan orang yang dicintai. Proses dari intervensi krisis terdiri atas lima tahap yang akan dijelaskan sebagai berikut :

    1. Pengkajian
Pengkajian terhadap klien selama intervensi krisis tergantung pada beberapa faktor, seperti : tingkat keparahan dari situasi krisis, persepsi klien terhadap krisis, dan kelebihan klien. Penjelasan dari ketiga hal diatas, adalah :

1. Kaji tingkat keparahan dari situasi krisis.
Faktor pertama pada tahap pengkajian adalah untuk menentukan jenis gangguan yang menyebabkan krisis dan untuk mengidentifikasi tingkat keparahannya. Ketika perawat mengkaji tingkah laku berbahaya dari klien terhadap diri sendiri dan orang lain, maka digunakanlah forensik krisis. Kata forensik digunakan perawat memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat, dan kebebasan klien.

2. Kaji persepsi klien terhadap krisis.
Faktor kedua meliputi pengkajian terhadap persepsi akan suatu peristiwa yang menyebabkan krisis meliputi, kebutuhan utama yang terancam krisis, tingkat gangguan hidup, gejala-gejala yang dialami klien, dan dukungan situasional.

3. Kaji kelebihan yang dimiliki klien.
Faktor ketiga meliputi pengkajian terhadap kelebihan yang dimiliki klien dalam penggunaan mekanisme koping yang digunakan dalam upaya mengatasi krisis.


    1. Diagnosis
Merumuskan diagnosa keperawatan yang spesifik untuk klien, keluarga, masyarakat, atau gabungan dari itu, diantaranya adalah :
a. Kecemasan
b. Ketakutan
c. Koping individu tidak efektif.
d. Gangguan citra tubuh.
e. Resiko kekerasan pada diri sendiri atau orang lain.
f. Ketegangan peran pemberi asuhan.
g. Disfungsi berduka.
h. Penyangkalan.
i. Ketidakberdayaan.
j. Koping keluarga.
k. Distres spiritual.


    1. Perencanaan
1. Bantu klien,keluarga, atau masyarakat dalam menetapkan tujuan jangka pendek yang realistis untuk pemulihan seperti sebelum krisis.
2. Tentukan kriteria hasil yang diinginkan untuk klien, keluarga, masyarakat, atau gabungan dari itu. Individu yang mengalami krisis akan mengalami berberapa hal berikut, diantaranya :
a.  Mengungkapkan secara verbal arti dari situasi krisis
b. Mendiskusikan pilihan –pilihan yang ada untuk mengatasinya.
c. Mengidentifikasi sumber daya yang ada yang dapat memberikan bantuan.
d. Memilih strategi koping.
e. Mengimplementasikan tindakan yang diperlukan untuk mengatasi krisis.
f. Menjaga keselamatan bila situasi memburuk.


    1. Implementasi
1. Bentuk hubungan dengan mendengarkan secara aktif dan menggunakan respon empati.
2. Anjurkan klien untuk mendiskusikan situasi krisis dengan jelas, dan bantu kien mengutarakan pikiran dan perasaannya.
3. Dukung kelebihan klien dan penggunaan tindakan koping.
4. Gunakan pendekatan pemecahan masalah.
5. Lakukan intervensi untuk mencegah rencana menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
6. Kenali tanda-tanda bahaya akan adanya kekerasan terhadap diri sendiri (misalnya: klien secara langsung mengatakan akan melakukan bunuh diri, menyatakan secara tidak langsung bahwa ia merasa kalau orang lain akan lebih baik jika ia tidak ada, atau adanya tanda-tanda depresi).
7. Lakukan pengkajian tentang kemungkinan bunuh diri.
8. Singkirkan semua benda yang membahayakan dari tempat atau sekitar klien.
9. Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan jiwa untuk menentukan apakah hospitalisasi perlu dilakukan atau tidak.


    1. Evaluasi
1. Perawat menggunakan kriteria hasil yang spesifik dalam menentukan efektifitas implementasi keperawatan.
2. Keselamatan klien, keluarga, dan masyarakat dapat dipertahankan sebagai hasil dari intervensi yang adekuat terhadap ekspresi perilaku yang tidak terkendali.
3. Klien mengidentifikasi hubungan antara stresor dengan gejala yang dialami selama krisis.
4. Klien mengevaluasi solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi krisis.
5. Klien memilih berbagai pilihan solusi.
6. Klien kembali ke keadaan sebelum krisis atau memperbaiki situasi atau perilaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar